Goldenvoicenews.com-Kompetisi Liga Piyek Jateng Gayeng 2025 resmi berakhir dengan menempatkan DH Team asal Wonosobo sebagai juara umum kelas Piyek Bebas. Konsistensi penampilan di setiap seri mengantarkan DH Team mengoleksi 1.435 poin, unggul cukup jauh dari para pesaing terdekatnya.
Liga Piyek Jateng 2025 menjadi salah satu kompetisi paling merata dan kompetitif dalam beberapa tahun terakhir. Digelar secara bergilir di sejumlah kota, mulai dari Salatiga, Sragen, Pemalang, Batang, Pekalongan, Cilacap, Kebumen, Temanggung, hingga Solo, liga ini bukan hanya menguji kualitas burung, tetapi juga ketahanan mental dan strategi para pemain.

Sejak seri awal, DH Team Wonosobo sudah menunjukkan grafik performa yang stabil. Hampir di setiap lokasi lomba, poin demi poin berhasil diamankan, menjadikan mereka sulit terkejar hingga seri penutup. Keunggulan ini menegaskan bahwa gelar juara bukan hasil satu-dua kemenangan besar, melainkan buah dari konsistensi sepanjang musim.
Di posisi runner-up, Dede Primarasa (Bandung) tampil impresif dengan total 1.315 poin. Beberapa kali mencatat poin besar di seri krusial, Dede Primarasa menjadi penantang paling serius dalam perburuan gelar. Sementara itu, Galih Nusantoro dari Tulungagung menutup musim di peringkat tiga dengan 905 poin, berkat performa kuat di sejumlah seri awal.
Liga Piyek Jateng 2025 juga mencerminkan pemerataan kekuatan antardaerah. Peserta dari Wonosobo, Bandung, Tulungagung, Jakarta, hingga pesisir utara Jawa Tengah sama-sama mampu mencuri poin di berbagai lapangan dengan karakter angin dan cuaca yang berbeda-beda. Hal ini menambah nilai kompetitif sekaligus membuktikan kualitas liga yang semakin matang.
Dengan berakhirnya musim 2025, Liga Piyek Jateng kembali menegaskan posisinya sebagai ajang pembinaan sekaligus pembuktian kualitas piyek terbaik di Jawa Tengah. Dominasi DH Team Wonosobo menjadi catatan tersendiri, sekaligus tantangan bagi tim-tim lain untuk tampil lebih solid pada musim berikutnya.

KELAS PIYEK YUNIOR.
TEAM PLH TELIKUNG PRIMARASA DIAKHIR LIGA.

Berdasarkan klasemen akhir, PLH BF asal Cilacap tampil konsisten dan keluar sebagai juara liga dengan raihan 1.020 poin, unggul jauh dari para pesaingnya.
Di posisi kedua ditempati Dede Primarasa (Bandung) yang mengumpulkan 855 poin, sementara Henry Atlas (Semarang) dan DH Team (Wonosobo) berbagi poin sama, masing-masing 590 poin, menunjukkan ketatnya perebutan papan atas. Andy S (Salatiga) menutup lima besar dengan total 520 poin.
Kompetisi kelas Piyek Yunior musim ini dinilai berjalan kompetitif dan merata. Sejumlah tim dari berbagai daerah seperti Semarang, Wonosobo, Jakarta, hingga Cilacap silih berganti mencatatkan poin di setiap seri, menandakan regenerasi piyek muda berjalan positif.
Dengan berakhirnya klasemen ini, Liga Piyek Jateng Gayeng 2025 kelas Piyek Yunior tidak hanya melahirkan juara, tetapi juga memperlihatkan potensi besar piyek-piyek masa depan yang siap naik level pada musim-musim berikutnya.


KELAS PIYEK HANGING
PLH BF Cilacap Kokoh di Puncak, Kunci Juara Liga Piyek Hanging Jateng Gayeng 2025.

Persaingan kelas Piyek Hanging dalam gelaran Liga Perkutut Jateng Gayeng 2025 resmi berakhir dengan dominasi PLH BF asal Cilacap sebagai juara umum. Konsistensi penampilan sejak seri awal hingga penutup mengantarkan PLH BF mengoleksi 1.330 poin, sekaligus sulit dikejar para pesaingnya.
Di posisi runner-up, Dede Primarasa dari Bandung tampil stabil dengan raihan 705 poin. Meski sempat memberi tekanan di beberapa seri, selisih poin yang cukup jauh membuat Primarasa harus puas finis di peringkat kedua. Sementara itu, H. Aziz Allonso (Cirebon) menutup liga di papan atas berkat performa solid di sejumlah seri penting.

Kejutan datang dari Sigit (Gombong) yang mampu menembus jajaran lima besar melalui akumulasi poin merata, membuktikan ketajaman piyek hanging miliknya mampu bersaing dengan nama-nama besar. Persaingan ketat juga terlihat di papan tengah, di mana beberapa peserta silih berganti mencuri poin pada seri tertentu.
Secara keseluruhan, kelas Piyek Hanging menghadirkan kompetisi yang menarik, sarat strategi, serta menuntut konsistensi tinggi. Keberhasilan PLH BF Cilacap menjadi penegas bahwa perawatan, mental burung, dan ketepatan membaca kondisi lapangan menjadi kunci utama meraih gelar juara liga musim ini.
Peraih poin terbaik disetiap kelas tentu sangat bahagia, bagaimanapun pengorbanan materi sungguh luar biasa, tidak cukup 20-50jt untuk mengarungi satu musim liga. besaranya biaya lomba ini kadang tidak sebanding dengan reward yang di sediakan, jadi kedepan semua panityia yang menggelar liga selama setahun sebaiknya memberikan rewand yang pantas dan bisa membuat gengsi kompetisi lebih bermakna, jelas anang teratai pengelola web site www.goldenvoicenews.com.



