Terimakasih atas bantuan sharenya

KELAS DEWASA SENIOR

Goldenvoicenews.com — Seri penutup Liga Perkutut Jateng Gayeng 2025 bertajuk Atlas Cup resmi digelar di Lapangan Marina, Semarang, (14/12). Meski cuaca mendung sejak pagi, lomba tetap berlangsung kondusif dan menyedot perhatian kung mania dari berbagai daerah. lomba kali ini terliat istimewa dengan kehadiran koh ahung (bambang atmaja). Sayang sejak pagi cuaca tidak bersahabat, mendung mengelantung dari subuh membuat burung yang turun hari ini kelihatan “bodoh”, sebut mas billah bagus bf.

Meski begitu ada burung yang tampil oke, sebut saja pancasona, zona alam dan tiga intan. Burung Pancasona milik Sony Hartanto (Surabaya) dari awak di naikan memang sudah bunyi, meski suara nya tidak konsisten namun burung ini di anggap paling layak menjadi yang terbaik dikelas dewasa senior sekaligus meraihan 150 poin. Posisi kedua ditempati Tiga Intan milik H Toha (Sidoarjo) dengan 130 poin, disusul burung tua Ruby Star milik Dede Primarasa (Bandung) yang mengoleksi 110 poin.

Lapangan Marina yang dikenal memiliki karakter angin berubah-ubah, tentunya ini menuntut kesiapan mental burung dan ketepatan setting dari tiap peserta. Sejumlah burung papan atas tetap mampu menunjukkan kualitas suara dan stabilitas penampilan, menutup rangkaian liga dengan atmosfer kompetitif namun sportif.

kelas dewasa yunior

Team GNP menang, team primarasa juara umum liga.

Kelas dewasa yunior meyajikan pertarungan monoton, meski mampu meraih koncer masimal namun penampilan Bently masih jauh dari kata terbaiknya. Gelaran dewasa yunior ini menjadi tontonan asyik meninggat pad aliga jateng 2026 kelas ini akan dihilangkan diganti kelas piyek bebas.

Burung perkutut bernama Bently milik Galih GNP (Tulunggagung) dengan ring Victory tampil paling konsisten dan keluar sebagai juara dengan 150 poin. Posisi kedua ditempati Desi Ratsari Reborn milik Dede Primarasa (Bandung) ring IBO dengan 130 poin, disusul Besta milik DH Team (Wonosobo) ring Ratu di peringkat ketiga dengan 110 poin.

Persaingan papan tengah hingga bawah juga berlangsung ketat. Nama-nama seperti Cahaya, Mandala, hingga Ambassador turut meramaikan sepuluh besar, mencerminkan meratanya kualitas burung dan ketangguhan tim-tim peserta dari berbagai daerah.

Kelas Piyek Yunior

di kelas Piyek Yunior. Sejak sesi awal hingga babak akhir, jalannya perlombaan diwarnai persaingan antar jawara, saling adu suara terjadi sejak awal babak, ini menandakan kualitas materi dan kesiapan peserta yang relatif merata. Faktor cuaca dan kondisi lapangan turut mempengaruhi penampilan burung yang turun, jawara yang bermental bandel seperti saritomo reborn milik team primarasa akhirnya menjadi pembeda. Meski Talenta milik h zaenal berusaha mengejar saritomo namun pada akhirnya burung bergelang pizzaro ini harus menyerah dan puas di posisi ke dua. kemenang saritomo reborn ini menghantarkan perolehan poin liga team primarasa makin melejit.

Dengan berakhirnya Atlas Cup, Liga Perkutut Jateng Gayeng 2025 resmi menutup perburuan poin. Panitia mengapresiasi partisipasi seluruh peserta serta dukungan sponsor, dan berharap capaian ini menjadi pijakan peningkatan kualitas lomba pada musim berikutnya dengan format lomba yang berbeda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *