Terimakasih atas bantuan sharenya

DEWASA AWARD

LEMBAH MANAH TAK ADA LAWAN!!

Goldenvoicenews.com-Gelaran Liga Perkutut Prabukusumo Award 2025 sukses digelar di Angkruksari, Gunung Kidul, pada 21 Desember 2025. Kelas Dewasa Award menjadi salah satu magnet utama, menyajikan persaingan ketat antar gaco terbaik dari berbagai daerah. Lomba ini berada di bawah naungan Pengwil dengan ketua Bpk. Susri, yang secara konsisten mendorong kualitas kompetisi tetap terjaga.

Penilaian pada kelas Dewasa Award dilakukan secara objektif dan menyeluruh melalui 4 babak, di mana masing-masing babak berdurasi 40 menit. Skema ini memberi ruang cukup bagi burung untuk menunjukkan kualitas suara, irama, kestabilan, serta mental bertanding di lapangan. Atmosfer lomba berlangsung kondusif, tertib, dan menjunjung tinggi sportivitas.

Hasil akhir mencatat Lembah Manah milik PM Suyanto (Jogja) tampil impresif dan keluar sebagai juara pertama. Burung bergelang Batusangkar ini mampu menjaga performa stabil sejak babak awal hingga akhir. Posisi runner-up diraih Pesona Indonesia (ring Samirono) milik Agus Hendratno, Sleman, yang juga mengamankan peringkat ketiga lewat gaco lainnya, Pecco Bagnaia, menunjukkan dominasi tim yang solid.

Sementara itu, Giratika milik Tim Chelsea & Cak Goendul (Surabaya) menempati posisi keempat, disusul Puspita (ring Ratu) milik DH Team, Wonosobo di peringkat lima. Persaingan papan tengah tak kalah sengit dengan hadirnya nama-nama kuat seperti Harbin Kalady, Malindo, hingga Penni Laras yang konsisten mengisi sepuluh besar.

HANGING AWARD,

Super Wangi Kukuh di Puncak Kelas Piyek Hanging Liga Prabukusumo Award

Kelas Piyek Hanging dalam ajang Liga Prabukusumo Award menyuguhkan persaingan sengit antar gaco unggulan dari berbagai daerah. Sepanjang penilaian, stabilitas kerja, durasi bunyi, serta kualitas irama menjadi faktor penentu dalam perebutan posisi terbaik.

Hasil akhir menempatkan Super Wangi (GTG 11) milik MASK BF Pacitan sebagai peraih nilai tertinggi sekaligus juara kelas. Ber-ring WA, Super Wangi tampil konsisten dan mampu menjaga kualitas suara di setiap sesi penilaian, membuatnya unggul dari para pesaing.

Di posisi runner-up, Batre (GTG 20) milik Sadewa BF Kulonprogo juga menunjukkan performa solid. Dengan ring SENTER, Batre tampil stabil dan beberapa kali menekan perolehan poin teratas, namun harus puas di peringkat kedua.

Sementara itu, posisi ketiga diamankan Nuansa Medan (GTG 18) milik H. Aidil Wallad dari Medan. Gaco ber-ring CHLELSEA ini tampil meyakinkan dan menjadi wakil luar daerah yang mampu menembus papan atas.

Persaingan di papan tengah berlangsung ketat. Banyu Biru (GTG 39) besutan Sor Jambu BF Jogja finis di posisi keempat, disusul Pring Aji (GTG 12) dari MASK BF Pacitan di peringkat kelima. Keduanya beberapa kali mencatat nilai tinggi dan konsisten sepanjang lomba.

Hasil akhir menempatkan Super Wangi (GTG 11) milik MASK BF Pacitan sebagai jawara utama. Gaco ber-ring WA ini tampil konsisten, mampu menjaga irama suara dan durasi kerja sejak awal hingga akhir lomba, sehingga layak mengunci posisi teratas.

Di posisi kedua, Batre (GTG 20) besutan Sadewa BF Kulonprogo juga menunjukkan performa solid. Dengan ring SENTER, Batre beberapa kali mencuri perhatian juri lewat stabilitas anggungan dan mental tanding yang matang.

Sementara itu, posisi ketiga diraih Nuansa Medan (GTG 18) milik H. Aidil Wallad dari Medan. Ber-ring CHLELSEA, Nuansa Medan membuktikan bahwa gaco luar daerah mampu bersaing ketat di arena Prabukusumo.

Persaingan papan tengah tak kalah seru. Banyu Biru (GTG 39) milik Sor Jambu BF Jogja bertengger di peringkat keempat, disusul Pring Aji (GTG 12) dari MASK BF Pacitan di posisi kelima. Keduanya tampil konsisten dan beberapa kali memperoleh nilai tinggi di babak krusial.

PIYEK YUNIOR Award.

Persaingan Ketat Warnai Kelas Piyek Yunior

Deretan Materi Muda Tunjukkan Kualitas dan Mental Juara.

Gelaran lomba burung perkutut pada kelas Piyek Yunior berlangsung kompetitif dan sarat gengsi. Sejak babak awal hingga akhir, kualitas suara, irama, serta kestabilan kerja burung menjadi perhatian utama dewan juri. Para peserta menurunkan materi-materi muda terbaik yang diproyeksikan sebagai calon bintang masa depan perkututan nasional.

Hasil akhir menempatkan Indah bergelang Punto milik Team Punto Jakarta dengan GTG 67 sebagai yang terbaik. Materi ini tampil konsisten, rapi dalam irama, serta mampu menjaga tempo kerja sepanjang penilaian, sehingga layak menduduki posisi puncak.

Posisi kedua diraih Dewa Ruci (GTG 83) bergelang Kent, milik Kent BF Bantul. Dewa Ruci menunjukkan kualitas suara yang matang untuk kelas yunior, dengan volume dan irama yang stabil. Sementara itu, Kaisar (GTG 66) ring Nusa dari Team Punto Jakarta menempati posisi ketiga, mengukuhkan dominasi Team Punto di papan atas.

Persaingan semakin menarik dengan hadirnya Kaisar (GTG 45) ring Bas milik Sunu Baskoro Bantul di posisi keempat. Disusul X-Man (GTG 52) ring Cak Goendul milik Tim Chelsea & Cak Goendul Surabaya yang berada di peringkat lima, menambah warna persaingan antar daerah.

Nama Duta Supermen (GTG 69) ring AZ milik Drs. Subeno Purworejo berada di posisi keenam, diikuti Bunga Selatan (GTG 70) milik Tukiran Bantul di urutan ketujuh. Puja (GTG 79) ring Kedaton milik H. Prabukusumo Jogja menempati peringkat kedelapan dengan performa yang cukup menjanjikan.

Sementara itu, Misteri Medan (GTG 51) ring Cak Goendul dari Tim Chelsea & Cak Goendul Surabaya berada di posisi kesembilan, dan Citra (GTG 78) ring MBF milik Miyanto Ungaran melengkapi sepuluh besar kelas Piyek Yunior.

Secara keseluruhan, kelas Piyek Yunior menunjukkan kualitas materi yang semakin merata. Banyak burung muda tampil berani, stabil, dan memiliki karakter suara yang menjanjikan. Hasil ini menjadi indikator positif bahwa regenerasi perkutut nasional terus berjalan, dengan potensi besar untuk bersinar di kelas yang lebih tinggi pada event-event mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *