
Gelaran Liga Perkutut Yogya Istimewa Seri Perdana yang berlangsung di Angkruksari, Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu (25/01/2026) sukses menyedot perhatian kung mania dari berbagai daerah. Event pembuka ini menjadi bukti nyata bahwa antusiasme dan gairah lomba perkutut di wilayah DIY masih sangat kuat dan terus berkembang.
Sejak pagi hari, arena lomba sudah dipadati peserta dengan kualitas burung yang merata dan siap bersaing. Kelas Dewasa menjadi salah satu kelas yang paling menyita perhatian, karena menampilkan burung-burung mapan dengan materi suara, volume, serta irama yang stabil. Penilaian berlangsung ketat dan objektif, sehingga persaingan di papan atas berlangsung sengit hingga akhir penilaian.
Panitia pelaksana mampu mengemas lomba dengan tertib dan terstruktur. Sistem penggantang berjalan rapi, waktu lomba terkendali, serta koordinasi juri berjalan solid. Hal ini membuat lomba berlangsung nyaman, baik bagi peserta maupun penonton yang hadir langsung di lapangan.
Ketua Pengwil DIY, Bapak Susri, memberikan apresiasi luar biasa kepada seluruh panitia dan kung mania yang telah mendukung penuh terselenggaranya liga seri perdana ini. Menurutnya, kesuksesan sebuah liga tidak hanya ditentukan oleh kualitas lomba, tetapi juga oleh kebersamaan, kedewasaan peserta, dan sportivitas selama perlombaan berlangsung.
“Liga Yogya Istimewa ini bukan sekadar ajang lomba, tetapi juga wadah silaturahmi dan pembinaan. Saya sangat mengapresiasi kerja keras panitia dan antusiasme kung mania yang luar biasa. Inilah modal utama untuk menjaga keberlangsungan liga ke depan,” ungkap Bapak Susri.
Beliau juga berharap Liga Yogya Istimewa mampu melahirkan burung-burung unggulan baru serta mendorong pemilik dan perawat burung untuk terus meningkatkan kualitas perkututnya secara sportif dan berjenjang.
Dengan suksesnya seri perdana ini, Liga Perkutut Yogya Istimewa diprediksi akan menjadi salah satu liga yang diperhitungkan di wilayah Jawa Tengah dan DIY. Konsistensi panitia, dukungan pengwil, serta animo kung mania menjadi kunci agar liga ini terus berkembang dan menjadi barometer lomba perkutut yang berkualitas.
Dominasi Bantul di Tengah Sengitnya Persaingan Dewasa.


Gelaran bergengsi LPJI #1 di Angkruksari hari ini menjadi panggung pembuktian bagi para jawara unggas kelas Dewasa. Persaingan berlangsung sangat ketat, terlihat dari keberagaman asal daerah peserta, mulai dari tuan rumah hingga tamu jauh dari Tangerang.
1. Kejayaan Ali Baba: Sang Jawara dari Jogja
Posisi puncak berhasil diamankan oleh Ali Baba, burung milik PM Suyanto asal Jogja. Dengan ring Batusangkar, Ali Baba tampil prima mengungguli rival-rivalnya di gantangan 77. Kemenangan ini menegaskan kualitas stamina dan mental tarung yang stabil di kelas Dewasa.
2. Dominasi Tim Eddy FES & Kekuatan Bantul
Jika ada sosok yang paling bersinar secara kolektif, ia adalah Eddy FES dari Bantul. Hebatnya, beliau berhasil menempatkan tiga jagoannya sekaligus di daftar 10 besar:
- Unicorn (Peringkat 3)
- Pegasus (Peringkat 4)
- Agung Sedayu (Peringkat 9)
Ketiga burung ini semuanya menggunakan ring RATU, menunjukkan keberhasilan pola latihan dan penangkaran yang sangat konsisten. Secara keseluruhan, Bantul mendominasi daftar juara dengan mengisi 7 dari 10 posisi yang ada.
3. Penantang Luar Kota yang Tangguh
Meski dominasi lokal sangat kuat, kehadiran Izwar milik Pramando dari Tangerang patut diapresiasi. Berada di posisi ke-7 dengan ring Batusangkar, kehadirannya membuktikan bahwa perlombaan di Angkruksari memiliki daya tarik nasional bagi para penghobi burung. Selain itu, Tombo Ati milik Drs Subeno dari Purworejo juga berhasil mencuri perhatian di peringkat ke-8
Dominasi Kent BF di Kelas Piyek Yunior.


Persaingan di kelas Piyek Yunior pada seri pembuka LPJI #1 berlangsung sangat sengit. Meskipun didominasi oleh peserta dari wilayah DIY, kehadiran jawara dari Kutoarjo dan Salatiga memberikan warna tersendiri dalam perebutan takhta juara.
1. Kegemilangan Kent BF: Dolok dan Sengon Menguasai Podium
Bintang utama di kelas ini jatuh kepada Kent BF dari Bantul. Kent BF berhasil menempatkan dua amunisi terbaiknya di jajaran tiga besar:
- Dolok (Gantangan 100) sukses meraih Juara 1 dengan ring KENT.
- Sengon (Gantangan 095) menyusul di Juara 3, juga dengan ring KENT. Dominasi ini membuktikan kualitas hasil penangkaran Kent BF yang sangat stabil di level Piyek Yunior.
2. Perlawanan Sengit dari Tim-Tim Tangguh
Di posisi kedua, Bandit milik Sunu Baskoro asal Bantul memberikan tekanan luar biasa dari gantangan 114. Sementara itu, Kembang Arum BF dari Kutoarjo melalui jagoannya, Kembang Sultan, berhasil menembus posisi 4 besar, membuktikan bahwa kualitas burung dari luar Bantul tidak bisa dipandang sebelah mata.
3. Tim Lain yang Konsisten di Sepuluh Besar
Beberapa nama besar juga menunjukkan konsistensi mereka dalam mencetak burung berkualitas:
- H Budi Kalady (Bantul): Menempatkan dua wakilnya, Demang Jodok (Juara 5) dan Sunan Kalady (Juara 7).
- Shorea BF (Sleman): Berhasil memborong dua posisi terbawah di daftar sepuluh besar melalui Pinayungan (Juara 9) dan Dolosa (Juara 10).
- Tim Mawar Hitam (Salatiga): Melalui burung bernama Nirwana, mereka sukses membawa pulang piala Juara 6 ke Salatiga.
Piyek Hanging : Pertarungan Sengit Talenta Muda di Angkruksari


Kelas Piyek Hanging pada seri perdana LPJI #1 menjadi ajang yang sangat dinamis dengan persebaran juara yang merata dari berbagai daerah di Yogyakarta dan Jawa Tengah.
1. Kaisar Tak Terbendung di Puncak Klasemen
Posisi pertama berhasil direbut oleh Kaisar, burung milik Sunu Baskoro asal Bantul. Tampil menonjol di gantangan 15 dengan ring BAS, Kaisar menunjukkan kualitas mental yang solid di kelas hanging, sekaligus mengukuhkan posisi Sunu Baskoro sebagai salah satu pemain papan atas di turnamen ini.
2. Ancaman dari Temanggung dan Gunungkidul
Persaingan di papan atas sangat ketat dengan hadirnya kontestan luar daerah yang memberikan perlawanan sengit:
- Jolo Sutro milik Whimono dari Temanggung sukses menempati posisi Juara 2 dengan ring Super Galaxi.
- Bayu Tanaya milik Ali Ma’sum dari Gunungkidul menyabet posisi Juara 3 dengan ring Elve SKM.
Kehadiran mereka membuktikan bahwa peta kekuatan di kelas Piyek Hanging sangat kompetitif dan tidak hanya didominasi oleh satu wilayah saja.
3. Konsistensi Pemain Lokal dan Wajah Baru
Beberapa nama familiar kembali menunjukkan tajinya di daftar 10 besar:
- H Budi Kalady (Bantul) tetap konsisten dengan menempatkan Kalady Jordan di posisi ke-6.
- Tokoh senior H Prabukusumo (Jogja) melalui burung bernama Timbul berhasil mengamankan peringkat ke-7 dengan ring Kedaton.
- Keterwakilan dari Purworejo dan Kulon Progo melalui Jhon Bangor (Edi EGT) dan Cemong (YIA BF) semakin mempertegas bahwa gelaran di Angkruksari ini merupakan barometer penting bagi para pemilik bird farm di lintas wilayah.
event kali ini sangat istimewa karena panitia membagikan hadiah mewah sepeda listrik, selain itu ada juga hadiah lainya yang sangat menghibur bagi yang belum meraih piala alias manuke diam berjemur. sampai ketemu di seri ke 2 liga yogya istimewa, ajak pak agus samirono motivator kung mania diy.






