spot_img
spot_img

Latber & Silaturahmi Pengwil Kepri: Animo Meningkat, Perkutut di “Kepri” Makin Berkualitas

Batam – Kegiatan Latihan Bersama (Latber) dan Silaturahmi Perkutut yang digelar bersama Pengurus Wilayah (Pengwil) Kepri pada Minggu, 18 Januari 2026, berlangsung sukses, tertib, dan penuh kekeluargaan. Bertempat di Buana Central Park, Bukit Daeng Tembesi, Batam, event ini menjadi ajang pembuktian kualitas burung sekaligus mempererat hubungan antar penghobi perkutut dari berbagai daerah.

Sejak pagi hari, peserta tampak antusias memadati lokasi. Tak hanya pemain lokal Batam, beberapa peserta dari Singapura turut ambil bagian, menjadikan persaingan semakin bergengsi dan berkelas. Jalannya lomba berlangsung kondusif dengan penilaian yang transparan dan mengedepankan sportivitas.

Dewasa Bebas: Dominasi Kualitas dan Jam Terbang

Kelas Dewasa Bebas menjadi magnet utama lomba. Burung Rolex King milik H. Ling (Singapura) tampil paling menonjol dengan irama suara panjang, stabil, dan mental tanding yang matang. Konsistensi sejak awal gantangan hingga akhir penilaian mengantarkannya meraih juara pertama.

Posisi kedua ditempati Big Boy, juga milik H. Ling, yang menunjukkan kualitas tidak kalah mentereng. Sementara Pacul milik Warsito (Batam) berhasil mengamankan podium ketiga, membuktikan burung lokal mampu bersaing dengan burung luar daerah.

“Kelas Dewasa Bebas hari ini kualitasnya sangat merata. Beberapa burung tampil dengan durasi suara dan irama yang bagus. Rolex King unggul dari sisi kestabilan dan mental,” ungkap salah satu tim juri Pengwil Kepri.

Piyik Yunior: Regenerasi Berkualitas

Di kelas Piyik Yunior, persaingan berlangsung ketat dan menjadi sorotan tersendiri. Sakura milik Harris (Batam) tampil konsisten dan mampu mencuri perhatian juri dengan suara yang rapi dan prospek cerah, hingga dinobatkan sebagai juara pertama.

Disusul Mondosio milik Purnomo dan Bagong milik Harris, yang masing-masing menempati posisi kedua dan ketiga. Kelas ini memperlihatkan bahwa proses regenerasi perkutut berkualitas di Batam berjalan dengan baik.

“Piyik Yunior hari ini luar biasa. Banyak burung muda yang sudah menunjukkan karakter suara bagus. Ini jadi sinyal positif bagi dunia perkututan Kepri,” ujar perwakilan panitia.

Piyik Hanging: Mental dan Materi Suara Diuji

Pada kelas Piyik Hanging, burung Hades milik Hidayat (Batam) tampil paling stabil dan berhasil keluar sebagai juara pertama. Penampilan konsisten dengan mental kuat membuatnya unggul dari pesaing lain.

Posisi kedua dan ketiga ditempati Karakkal milik Mudjianto dan Alysia milik Mbah Ali. Kelas ini dinilai cukup kompetitif, dengan selisih penilaian yang relatif tipis.

“Piyik Hanging menuntut mental kuat. Burung yang berani bunyi dan tidak terpengaruh kondisi lapangan akan lebih mudah masuk nominasi,” jelas salah satu juri.

Lebih dari Sekadar Lomba

Selain kompetisi, Latber ini juga menjadi wadah silaturahmi antar pemain, breeder, dan penghobi perkutut. Diskusi ringan seputar perawatan, breeding, hingga strategi lomba terlihat berlangsung akrab di sela-sela gantangan.

Panitia menyampaikan apresiasi atas tertibnya peserta serta dukungan semua pihak sehingga acara berjalan lancar.

“Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut. Bukan hanya mencari juara, tapi membangun kebersamaan dan meningkatkan kualitas perkutut di Kepri,” tutup panitia pelaksana.

Dengan suksesnya Latber & Silaturahmi ini, Pengwil Kepri optimistis dunia perkututan di wilayah Kepulauan Riau akan semakin berkembang dan siap bersaing di event-event yang lebih besar ke depannya.

Ketua Pengwil Riau Apresiasi Antusiasme Penghobi

Ketua Pengwil Riau, Haji Anwar, menyampaikan rasa bangga dan kegembiraannya melihat animo penghobi perkutut di Batam dan Kepulauan Riau yang terus meningkat dari waktu ke waktu.

“Saya sangat senang melihat antusiasme penghobi perkutut di Batam, khususnya Kepulauan Riau, yang semakin ramai dan solid. Ini menunjukkan bahwa perkututan di daerah ini berkembang dengan sangat baik,” ujar Haji Anwar di sela-sela kegiatan.

Lebih lanjut, Haji Anwar menyoroti kemajuan signifikan di sektor breeding lokal. Menurutnya, dalam beberapa waktu terakhir, peternak di Batam dan Tanjung Pinang sudah mampu mencetak perkutut-perkutut dengan kualitas suara, mental, dan materi yang tidak kalah dengan burung dari daerah lain.

“Belakangan ini kami melihat sendiri, peternak lokal Batam dan Tanjung Pinang sudah mampu menghasilkan perkutut berkualitas bagus. Ini pencapaian yang patut diapresiasi dan terus didukung,” tambahnya.

Prestasi Burung Produk “lokal” Jadi Bukti Nyata

Pernyataan tersebut diamini oleh Mas Hidayat, salah satu peserta yang sukses meraih juara pertama kelas Piyik Hanging melalui burung andalannya Hades. Ia menegaskan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil dari ternakan lokal Batam.

“Alhamdulillah, burung yang juara hari ini murni hasil ternak lokal Batam. Ini membuktikan bahwa breeder di sini sudah mampu bersaing dan menghasilkan kualitas yang siap tampil di gantangan,” ungkap Mas Hidayat.

Menurutnya, dukungan event rutin seperti latber sangat berperan dalam memacu semangat peternak dan pemain untuk terus meningkatkan kualitas perkutut lombanya.

Kompetisi Berkualitas dan Sarat Kebersamaan

Secara keseluruhan, Latber & Silaturahmi ini tidak hanya menjadi ajang perebutan gelar juara, tetapi juga wadah evaluasi kualitas burung, tukar pengalaman antar penghobi, serta mempererat persaudaraan komunitas perkutut di Kepulauan Riau.

Panitia berharap kegiatan serupa dapat terus digelar secara berkelanjutan, guna menjaga iklim kompetisi yang sehat dan mendorong lahirnya lebih banyak perkutut berkualitas dari daerah.

Dengan semakin ramainya animo penghobi serta munculnya prestasi burung ternak lokal, Batam dan Kepulauan Riau kini mulai diperhitungkan sebagai salah satu sentra perkutut potensial di wilayah barat Indonesia.

Trending Topic

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Related news