Semarang-Liga Jateng Gayeng 2026 memang baru digelar dua seri, tapi aroma persaingan antarburung jawara terpantau memanas. Persaingan kelas dewasa menjadi titik perhatian publik kung mania Nusantara, hingga berakhirnya Seri 2 (Semarang dan Solo), perebutan poin demi poin tercatat padat merayap. Dua putaran awal langsung memunculkan persaingan antartim kung mania, kekuatan lama, dan baru berusaha menunjukkan diri sebagai yang terbaik, sekaligus menegaskan dominasi nama timnya ke publik kung mania. Dari klasemen Liga Jateng Gayeng, tercatat burung milik tim “Mampan Finansial” sangat mendominasi.
Klasemen Dewasa
EL ZERO MIEDO “Ngacir” Terdepan.
Tak terbantahkan, burung jawara bernama EL ZERO MIEDO ring PRATAMA milik Cokro Hindoyo (Lombok) paling konsisten di dua seri. Sapu bersih poin di Semarang (150) dan Solo (150) membuatnya mengoleksi 300 poin, menjadikan poin El Zero Miedo “ngacir” paling atas di klasemen Liga Jateng Gayeng 2026.
Dengan margin 90 poin dari posisi kedua, EL ZERO MIEDO untuk sementara menjadi kandidat kuat untuk menjadi peraih gelar liga di akhir musim—meski perjalanan masih panjang.
Di posisi runner-up, RODTANG ring NUSA milik Akang Nusa (Bogor) mengemas 210 poin (80 SMG, 130 Solo), menjadikan posisi RODTANG di klasemen liga Jateng gayeng ke dua. Lonjakan performa di Solo menjadi bukti bahwa Rodtang bakal menjadi pesaing abadi selama gelaran Liga Jateng Gayeng.
Sementara itu, RAJA BAKO (HDL) milik Cokro Hindoyo menempel di peringkat ketiga dengan 130 poin. Meski baru tampil maksimal di satu seri, potensi untuk merangsek naik masih sangat terbuka, apalagi Raja Bako dan el zero meido berangkat dari “bengkel” dan mekanik yang sama.
Posisi 4 hingga 10 dihuni nama-nama yang selisih poinnya relatif tipis:
MAHABHRATA (110) – Agil Marsono, Cirebon
MODERATOR (110) – Sandi/Musa, Caruban
CHIKI CHIKI (110) – Team Punto, Jakarta
SENSASI (90) – Agus Tardi, Tanjung Pinang
RUBY STAR (90) – Team Primarasa, Bandung
MERDEKA (80) – Abag Qodir, Pasuruan
ZONA ALAM (70) – Agus TP, Surabaya
Menariknya, CHIKI CHIKI milik Team Punto langsung menggebrak lewat torehan 110 poin di Solo, menunjukkan kekuatan baru dari Team Punto yang siap menebar “ranjau” di setiap seri liga Jateng. Sementara moderator meski tampil stabil di dua seri, sangat berat untuk menjadi terbaik.
Nama-nama seperti PURBAYA (60), PUTRA TASIK (60), serta SENANDUNG RINDU (50) masih berpeluang besar untuk memperbaiki posisi, asal pemiliknya “rajin bakar kertas”, apalagi Liga masih menyisakan banyak seri, sehingga kemenangan demi kemenangan akan memengaruhi posisi poin di klasemen Liga Jateng 2026.
Tak kalah menarik, duet burung milik Titi Alf—DONALD TRUMP dan BIG SHOW—meski poinya keteteran di belakang, secara kualitas kedua burung terbaik milik tim Alf Semarang ini bakal menjadi pesaing utama El Zero Meido, hanya saja semua berpulang kepada mental burugnya, karena mental ini tidak bisa disulap!

Kelas Piyek Bebas: Nama burung tak penting!
Banyak juara, banyak pula poinnya.
Memasuki akhir Seri 2 (Semarang dan Solo),di klasemen liga perkutut Jateng gayeng kelas Piyek Bebas menghadirkan dinamika berbeda dibanding musim-musim sebelumnya. Kelas Piyek Bebas ini sebagai pengganti kelas dewasa junior yang pensiun dini karena dianggap “kelas kagak jelas”. Kalau dulu di kelas dewasa junior, poinnya dikategorikan untuk nama burung jawara, tapi untuk poin Piyek Bebas diubah. Sesuai kesepakatan panitia, perhitungan poin musim ini didasarkan pada nama pemilik atau tim, bukan nama burung.
Keputusan ini memang memunculkan pro dan kontra. Secara gengsi, sebagian penghobi menilai nama burung lebih “bernyawa”. Namun panitia melihat sisi strategis:
Agar juara lebih variatif, tidak didominasi oleh satu nama burung saja, serta memberi ruang regenerasi sehingga kompetisi terasa lebih segar dan tidak monoton, dan juga ini strategi untuk menjaga agar tiket tetap terjual sesuai target.
NUNU / TORO TP Melaju Stabil
Posisi puncak sementara kelas liga Jateng gayeng kelas ini ditempati NUNU / TORO TP (Depok) dengan koleksi 260 poin (130 SMG, 130 Solo). Konsistensi di dua seri menjadi pembeda utama. Tanpa dibantu tim sorak alias hanya suntoro sendiri , namun poinya stabil di papan atas. Mereka kini menjadi tolok ukur persaingan Piyek Bebas.
Dengan format poin berbasis pemilik/team, kekuatan manajemen materi burung dan strategi penurunan menjadi faktor krusial—dan itu terlihat matang di kubu Depok yang menurunkan lebih dari 1 jagoannya .
Di posisi kedua, DEDE PRIMARASA (Bandung) mengoleksi 150 poin dari kemenangan maksimal di Semarang. Meski di Solo belum menambah angka, peluang masih terbuka lebar, apalagi tim prima rasa ini tergolong tim “mapan finansial” yang rajin bakar kertas setiap pekan.
AGUS TARDI (Tanjung Pinang) dengan 150 poin justru mencuri perhatian lewat sapu bersih di Solo. Dengan joki handal dari Jombang team luar Jawa Tanjung Pinang ini seperti akan fight hingga akhir liga, ini membuktikan bahwa momentum satu seri bisa langsung mengangkat posisi secara signifikan dalam sistem kolektif seperti sekarang.

Piyek Junior : Duel Bandung–Surabaya
Memasuki akhir Seri 2 (Semarang dan Solo), kelas Piyek Junior menghadirkan tensi persaingan yang tak kalah panas dari kelas Dewasa dan Piyek Bebas. Sama seperti kelas piyek lainnya, musim ini poin resmi dihitung berdasarkan nama pemilik atau tim, bukan nama burung.
Format ini membuat persaingan lebih kolektif dan strategis. Bukan sekadar satu materi andalan, melainkan bagaimana manajemen tim menyiapkan amunisi terbaik di setiap seri.
DEDE PRIMARASA Dominan, 380 Poin!
Tak terbantahkan, DEDE PRIMARASA (Bandung) tampil luar biasa dengan total 380 poin (230 SMG, 150 Solo). Ini menjadi capaian tertinggi sementara di seluruh kelas piyek.
Kekuatan utama Bandung terlihat pada kestabilan materi dan keberanian memainkan ritme sejak awal musim. Unggul 90 poin dari posisi kedua, Dede Primarasa kini memegang kendali klasemen.
Sony Hartanto Menguntit Serius
Di posisi runner-up, SONY HARTANTO (Surabaya) mengoleksi 290 poin (130+160). Justru, performanya meningkat secara signifikan, menandakan grafik yang sedang menanjak.
Jika tren ini berlanjut, selisih 90 poin bukan jarak yang mustahil dikejar, mengingat liga masih menyisakan beberapa seri penting.
H. Zainal Stabil, Kent BF Masih Mengancam
Posisi ketiga ditempati H. ZAINAL (Krian Sidoarjo) dengan 220 poin (110+110). Konsistensi menjadi kekuatan utamanya—dua seri dengan angka identik menunjukkan kestabilan performa materi juniornya.
Sementara KENT BF (Jogja) mengoleksi 160 poin. Sempat kuat di Semarang (130), namun hanya menambah 30 di Solo. Jika mampu menemukan kembali performa awal, Kent BF berpotensi kembali meramaikan tiga besar, apalagi semua kung mania Nusantara “paham” kekuatan tim Kent bf Yogyakarta.
Papan Tengah: Celah Terbuka Lebar
Nama-nama seperti:
DJEDJEN (Tangerang) – 130 poin
TEAM PUNTO (Jakarta) – 90 puntos
MIRZA (Tegal) – 90 points
AGUS (Boyolali) – 60 poin
AGUNG H (Jombang) – 60 poin
masih sangat terbuka untuk merangsek naik. Terlebih di kelas junior, lonjakan 100+ poin dalam satu seri sangat mungkin terjadi.
Mirza menjadi contoh menarik: dari hanya 10 poin di Semarang, melonjak 80 poin di Solo. Artinya momentum bisa mengubah posisi secara drastis.
Regenerasi Hidup, Persaingan Sehat
Dengan sistem poin berbasis pemilik/team, kelas Piyek Junior musim ini terasa lebih dinamis. Tidak ada dominasi satu nama burung, melainkan adu strategi dan kesiapan materi cadangan.
Beberapa nama seperti TIM MAWAR HITAM (Salatiga), H Iwan (Jombang), hingga EKO AKPOL (Semarang) mulai mengumpulkan poin penting sebagai fondasi untuk seri berikutnya.





