Terimakasih atas bantuan sharenya

TANGERANG – Peta persaingan perkutut tanah air kini tengah diramaikan oleh satu nama yang pelan namun pasti mulai menebar ancaman serius di setiap gelaran: 3F Bird Farm BSD. Di bawah komando H. Sularno, tokoh sentral yang juga menjabat sebagai Ketua Pengwil P3SI Jabodetabek, farm ini bukan sekadar tempat penangkaran, melainkan “kawah candradimuka” lahirnya jawara-jawara baru yang siap menggetarkan tiang gantungan nasional.

Sosok di Balik Layar: Kepemimpinan dan Prestasi

H. Sularno dikenal bukan hanya sebagai peternak bertangan dingin, tetapi juga sebagai organisator ulung. Kesuksesan beliau dalam menyelenggarakan berbagai konkurs nasional menjadi bukti kredibilitasnya. Yang paling segar dalam ingatan adalah kesuksesan Kejurnas LPI (Liga Perkutut Indonesia) baru-baru ini.

Gelaran tersebut tidak hanya megah secara kompetisi, tetapi juga fenomenal dengan taburan doorprize mewah senilai lebih dari Rp50 juta, sebuah standar tinggi yang mencerminkan komitmen H. Sularno dalam memajukan hobi perkutut di tanah air.


“Gunawarman” dan Karakter Suara “Jeritan Mak Lampir”

Prestasi terbaru yang menjadi buah bibir adalah keberhasilan Gunawarman, produk asli 3F yang sukses merengkuh podium Juara 1 di kelas Dewasa Yunior. Kemenangan ini mempertegas identitas suara hasil ternak 3F yang unik dan berkarakter.

Jika diamati, rata-rata burung besutan 3F memiliki tipikal suara yang sangat spesifik:

  • Depan: Melengking tajam dan bersih, sering diibaratkan setajam “Jeritan Mak Lampir” yang mampu menembus riuhnya arena.
  • Tengah: Memiliki tipe suara yang “tebal-tebal”, berirama mantap dan berbobot.
  • Ujung: Panjang, menutup rangkaian irama dengan sempurna.

Kombinasi inilah yang membuat burung-burung dari 3F memiliki power luar biasa di lapangan, menjadikannya momok bagi lawan di setiap blok gantungan.


Amunisi Genetik: Kolaborasi Darah Jawara

Kekuatan 3F Bird Farm tidak lepas dari materi indukan (materi dasar) yang terbilang sangat komplit. H. Sularno tidak main-main dalam menyusun breeding plan. Di dalam kandang ternaknya, mengalir darah-darah elit dari bird farm ternama seperti:

Shasha, Atlas, JML, AF, dan trah fenomenal MAGNUM M 1 mandalika, juga serta deretan materi terbaik lainnya yang ada di Indonesia saat ini.

Nama-nama seperti Pacil, Gunawarman, Gunadarma, hingga Savicevic kini menjadi pondasi utama. Burung-burung ini bukan sekadar penghuni kandang, melainkan “mesin pencetak” generasi masa depan 3F yang diprediksi akan semakin mendominasi di tahun-tahun mendatang.


Ekspansi Besar ke Gunung Sindur

Menatap masa depan yang lebih gemilang, 3F Bird Farm tengah mempersiapkan langkah strategis. Lokasi kandang ternak yang semula berada di BSD, rencananya akan segera bergeser ke area Gunung Sindur.

Perpindahan ini bukan sekadar pindah alamat, melainkan upaya ekspansi untuk menciptakan lingkungan ternak yang lebih ideal, tenang, dan kapasitas yang lebih besar demi memenuhi permintaan kung mania yang terus meningkat terhadap produk 3F.

Dengan manajemen yang profesional, materi burung kelas wahid, dan tangan dingin seorang H. Sularno, 3F Bird Farm BSD kini tidak lagi sekadar berpartisipasi. Mereka sedang membangun dinasti, satu persatu gelar juara dipetik, dan ancaman nyata itu kini telah tiba di depan mata para penghobi perkutut nusantara.

Pesan Sang Ketua: Menjaga Hati, Merawat Hobi

Di balik ambisinya mencetak burung jawara, H. Sularno tetap menapak bumi. Sebagai Ketua Pengwil Jabodetabek, ia memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan ekosistem hobi perkutut tetap sehat, terutama bagi para pendatang baru (pemula) yang baru saja terjun.

Ia menyadari bahwa transaksi burung perkutut bukan sekadar jual beli materi, tapi juga jual beli “kepercayaan”. H. Sularno memberikan pesan mendalam bagi para pemain baru agar tidak lekas patah arang:

“Bermain perkutut itu harus dibangun dengan rasa nyaman dan persaudaraan. Saya selalu menekankan kepada teman-teman, bimbinglah para pemula dengan jujur. Kita harus paham bahwa tidak semua orang bisa ikhlas ketika merasa ‘gagal’ dalam bertransaksi,” ujar H. Sularno dengan nada tenang.

Beliau menambahkan bahwa kegagalan dalam memilih burung seringkali menjadi pintu keluar bagi pemula untuk meninggalkan hobi ini. Oleh karena itu, edukasi menjadi kunci utama.

“Jangan sampai pemula kapok karena merasa salah melangkah. Hobi ini harus dinikmati prosesnya. Kami di 3F selalu terbuka untuk diskusi; bukan hanya soal menjual burung, tapi bagaimana memastikan burung tersebut bisa dinikmati suaranya dan syukur-syukur bisa berprestasi. Kalau pemula nyaman, hobi ini akan terus hidup dan panjang umur,” lanjutnya.


Bagi H. Sularno, gelar Juara 1 yang diraih Gunawarman atau kemegahan Kejurnas LPI hanyalah bonus dari manajemen yang baik. Namun, integritas dalam membimbing sesama kung mania adalah investasi jangka panjang yang sesungguhnya, termasuk dukungan keluarga juga ikut memberikan warna tersendiri.

Dengan rencana kepindahan ke Gunung Sindur, 3F Bird Farm tidak hanya membawa deretan piala, tetapi juga membawa visi untuk menjadikan dunia perkutut sebagai wadah silaturahmi yang jujur dan transparan, juga hiburan masa pensiun bersama keluarga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *