GoldenvoiceNews.com — Lapangan Ongkoe Belawa, Kabupaten Wajo, menjadi pusat perhatian Kung Mania se-Sulawesi pada Minggu siang. Lebih dari 180 ekor perkutut dari berbagai daerah—termasuk Palu, Makassar, Bone, Mamuju, Enrekang, hingga Pangkep—hadir memeriahkan gelaran Liga Sulawesi Seri VII “Bupati Cup”, yang sekaligus menjadi lomba penutup poin Liga Sulsel 2025.
Acara ini terasa semakin istimewa karena dihadiri langsung oleh Bupati Wajo beserta jajaran pejabat daerah yang memberi dukungan penuh pada perkembangan dunia perkutut di Sulawesi Selatan. Kehadiran mereka memberikan apresiasi tinggi kepada para peserta, pelaku usaha, dan komunitas perkutut yang konsisten membangun prestasi di tingkat regional maupun nasional.

Tak hanya itu, gelaran ini juga menghadirkan nama besar di dunia perkututan nasional. Bapak Moch. Zaenal, juri nasional sekaligus anggota Dewan Lomba Nasional, hadir secara khusus untuk ikut memantau jalannya penilaian dan memberikan standar tinggi dalam proses penjurian. Keberadaan beliau memberi nilai tambah karena menjadi jaminan objektivitas serta kualitas kompetisi.
Ketua panitia Achank dan Ketua Pengwil P3SI Sulawesi Selatan Wisnu Wibawa, dalam sambutannya, menyampaikan bahwa Bupati Cup Wajo digelar sebagai bentuk apresiasi terhadap antusiasme Kung Mania, sekaligus penutup resmi perolehan poin Liga Sulsel 2025. Mereka berharap ajang ini makin memotivasi peternak dan pemilik untuk terus meningkatkan kualitas burung.
Hasil Lomba: Persaingan Ketat di Semua Kelas
1. Kelas Dewasa Senior
Kelas paling bergengsi ini diramaikan burung-burung terbaik dari Palu, Gowa, Enrekang, dan Pangkep. Gelar juara pertama diraih Bintang Selatan milik H. Sodding (Palu) yang tampil stabil sejak awal penilaian. Disusul Gowata milik Adnan Tandaolang BF dan Makita milik H. Maellang.


2. Kelas Dewasa Junior
Kelas ini menjadi salah satu yang paling kompetitif. Juragan milik H. Sodding/Anju (Palu) kembali mendominasi dan mengamankan posisi pertama. Sementara Mapala milik H. Nawir (Makassar) dan Wajo Barat milik Bimbo (Belawa) menempel ketat di posisi 2 dan 3.



3. Kelas Piyik Junior
Di kelas talenta muda, persaingan cukup menarik dengan hadirnya banyak piyik kualitas tinggi. Tatsaka milik H. Maellang (Palu) tampil mencolok dan mengunci juara 1, diikuti Putra Belawa milik H. Sodding/Anju. Sementara Viro milik Akbar Locksmith dari Pangkep berhasil meraih podium ketiga.


4. Kelas Hanging
Kelas bergengsi lain yang tak kalah ramai. Capila milik H. Didit (Makassar) keluar sebagai juara 1, setelah unggul tipis dari Sepatu Laras milik Antho Udan BF (Palu). Posisi ketiga diraih Stroping milik Donding Madalle’e dari Rappang Sidrap. munculnya capila dipodium pertama membuat bangga h didit, bagaimanpun dirinya merasa baru di jagad kung mania, namun hasil ternakanya sudah ada yang meraih prestasi pertama. hal ini tentu menjadi penyemangat tersendiri khsususnya suport dari “ibu negara” jeas, pak didit.

Lomba Penutup Liga Sulsel: Penentu Poin Akhir Musim
Sebagai seri penutup Liga Sulsel, banyak peserta turun dengan formasi terbaik untuk merebut poin terakhir. Atmosfer tegang terasa hingga akhir lomba, terutama bagi para pemilik yang tengah bersaing di klasemen poin liga.
Panitia mengapresiasi peserta yang datang dari luar daerah, terutama kontingen Palu, Mamuju, dan Bone, yang menempuh perjalanan panjang demi mendukung geliat perkututan Sulawesi Selatan.

Kemeriahan & Harapan untuk Tahun 2026
Bupati Wajo dalam sambutannya mengapresiasi antusiasme peserta dan komunitas perkutut yang dinilai berperan positif dalam mempererat hubungan sosial dan mengembangkan hobi produktif di masyarakat. Ia juga berharap tahun depan Wajo dapat kembali menjadi tuan rumah event skala besar.
Ketua Pengwil Sulsel Wisnu Wibawa menegaskan bahwa kompetisi tahun 2025 menjadi salah satu yang paling kompetitif dalam sejarah Liga Sulsel, dan ia berkomitmen menghadirkan gelaran yang lebih besar pada musim 2026.
Penutup
Dengan berakhirnya “Bupati Cup Wajo 2025”, maka resmi sudah penutupan poin Liga Sulsel musim ini. Event berlangsung sukses, tertib, dan memenuhi standar nasional berkat dukungan penuh juri, panitia, pemerintah daerah, serta peserta dari berbagai wilayah.
Komunitas Kung Mania kini menantikan agenda besar berikutnya, dengan harapan kualitas perkutut Sulawesi semakin bersinar di tingkat nasional.@terataibf.











