KEJURNAS CUP–Seri Pamungkas Penutup Liga Perkutut Indonesia 2025
Lapangan Pengwil Sejabodetabek Kranggan – Bekasi, Minggu 07 Desember 2025
GOLDENVOICENEWS.COM-Gelaran Kejurnas Liga perkutut indoensia 2025 di Kranggan, Bekasi, menjadi panggung terakhir yang menutup rangkaian panjang kompetisi Liga Perkutut Indonesia musim 2025. Namun alih-alih menghadirkan duel sengit antar burung-burung kualitas papan atas, seri pamungkas ini justru menghadirkan cerita antiklimaks. Banyak burung kualitas tinggi yang digadang-gadang bakal mendominasi justru tampil melempem—gagal mangung, sebut saja “Putra Kadur, Camelia, Pacil, Savesevic, Nalendro, Molen, Paku Alam, Gunadarma juga Juara LPI pamekasan Genius, dan kesemuanya gagal menunjukkan performa tajam seperti biasanya. Genius dan Putra kadur jadi favorit menjuarai event ini, bahkan seminggu sebelum kejurnas putra kadur meraih koncer tiga hitam 3 babak di liga LPM, dan Genius lebih keren sebagai juara LPI Pamekasan juga dengan raihan koncer 3 hitam 3 babak. kegagalan “burung berkualitas” mangung ini dimanfaatkan dengan baik oleh burung yang “rajin bunyi” untuk menjadi pemenang, dan benar adanya, burung-burung yang tampil gacor sejak awal justru memimpin dan mengunci podium.
Fenomena ini membuat suasana lomba berjalan penuh kejenuhan bagaimanapun peserta atau penonton pengen mengetahui “kualitas juara” namun justru mereka para tokoh kung mania pun dibuat heran sekaligus geleng geleng dengan yang dilihat dilapangan—pasalnya, beberapa burung yang sering diprediksi hanya sebagai “penggembira” justru tampil on fire, mengalahkan burung-burung dengan nama besar yang biasanya stabil.

DEWASA SENIOR: MAHABARATA KUNCI JUARA, BURUNG FAVORIT TERSANDUNG PERFORMA
Di kelas paling bergengsi, Dewasa Senior, kejutan muncul ketika banyak burung mapan justru tampil ragu. Namun Mahabarata milik Agil Marsono/Team JBM Malang tampil gacor dan konsisten, mengamankan total 150 poin dan menutup musim dengan manis. Performa Mahabarata yang stabil sejak awal sesi membuatnya tak tergoyahkan.
El Zero Miedo dari Carpenter Team Lombok tetap tampil bagus, namun momentum gacornya tidak cukup untuk menyalip dominasi “kegacoran” Mahabarata sedangkan Anggun milik Frans Bellman Banten juga tampil kuat di tiga sesi awal sebelum ritmenya menurun, menjelang akhir pertandingan.
Banyak juri dan pengamat lapangan menyebut hal ini sebagai “hari aneh”, karena kualitas tidak selalu menang—dan hari itu, gacoran murni lah yang jadi penentu meraih trophy.


DEWASA YUNIOR: GUNADARMA TAK TERKEJAR, PARA PENANTANG TERKUNCI DI BAWAHNYA

Fenomena di kelas dewasa senior tidak tertular dikelas dewasa yunior, kali ini juaranya bener-bener burung keren, Gunadarma milik H. Sularno/BSD Tangerang, tampil tidak hanya gacor tapi juga berkualitas, bahkan menurut salah satu dewan yang bertugas burung yang dikerek di no 211 dari awal hingga akhir kurang disuport oleh joki, bisa dibilang burung ini juara murni tanpa “TERIAKAN joki bayaran”, masih menurut sang dewan andai burung ini main di senior pun bisa juara.
Munuroh milik Agus tardi kung mani tanjung pinang yang di kerek di 230 memang bukan kelasnya Gunadarma termasuk Land Cruiser Reborn dari Team Primarasa Bandung di kerekan 191 padahal keduanya sudah berusaha tampil maksimal. Namun ritme gacor dan “berkualitas” yang dialunkan Gunadarma terlalu sulit dikejar.
Menurut Anang Teratai, lapangan di Eraska memang unik. Meski tempatnya bagus, sirkulasi angin tidak selalu bersahabat dengan burung-burung yang dikerek. Karena itu, tidak heran jika burung yang mentalnya tidak fighter atau kondisinya tidak fit akan kesulitan tampil gacor, yang jelas kalau main dilapangan ini jangan berusaha “ngerem” suara burung, makin di”rem” makin zonk.
Faktor aturan 3,5,7 juga membawa dinamika tersendiri. Tidak mudah merawat burung agar mampu gacor dalam empat babak dengan standar bunyi sesuai kesepakatan AD/ART. Meski demikian, sulit gacor bukan berarti burung yang hanya mengandalkan kegacoran otomatis harus menjadi juara.
Masih menurut anang, burung yang ‘KUALITAS” suaranya “SESUAI” kriteria lah yang layak dihitung, bukan hanya kegacoranya yang dihitung hingga lupa membedakan kualitas “mutu suara” antar satu nyanyian dengan nyanyian lainya dan itu yang terjadi dibeberapa event, termasuk yang lalu.


PIYIK BEBAS: Parvez Menggila, AldeGeur & Ruby Star Tampil Stabil

Pada Sabtu, 6 Desember 2025, menghadirkan tontonan berkualitas dari para piyek masa depan hasil ternakan breder-bredeer perkutut tanah air. Tiga kelas diperlombakan—Piyik Bebas, Piyik Yunior, dan Piyik Hanging—pesertanya full tidak ada tiket tersisa dan jalanya lomba berlangsung ketat sejak awal sampai akhir, ini memperlihatkan persaingan sengit antar peternak dan tim terbaik dari berbagai daerah.
Di kelas Piyik Bebas, Parvez milik Pramando/BSD Tangerang tampil paling dominan dan sukses mengamankan posisi puncak. Dengan kestabilan nada dan durasi suara yang matang untuk ukuran piyek, Parvez layak disebut sebagai sorotan utama lomba.
Di belakangnya, Aldegeur dari Wewe ALF/Malang mencatat performa menawan hingga finish sebagai runner-up. Sementara itu, Ruby Star milik Dede Primarasa/Bandung yang selama ini dikenal konsisten, kembali mengamankan podium tiga besar.
Nama-nama lain seperti Gabriel (Ring ALF), Sapujagad (Henry Wat), serta Joko Umbaran (H Syaful/Tanjung) juga memberi warna dengan penampilan impresif, menunjukkan banyak potensi besar yang akan bersinar di masa depan.


PIYIK YUNIOR: Kenda Wangan Tak Terbendung

Kelas Piyik Yunior menjadi salah satu pertandingan paling seru. Kenda Wangan milik H. Abdullah M. Faisol/Malang tampil sangat superior. Kenda Wangan unggul cukup tipis dari pesaing-pesaingnya.
Di posisi kedua, Saritomo Reborn milik Dede Primarasa/Bandung kembali membuktikan kualitas breeding Bandung yang dikenal stabil dari waktu ke waktu. Disusul Gembala milik Henry Manila/Bandung yang mengunci posisi tiga besar.
Burung-burung lain seperti Sandor, Minak Jinggo, Manikam Alam, dan Comando masih menunjukkan performa yang kuat dan diyakini bakal meramaikan persaingan liga tahun depan.
Kelas ini benar-benar menampilkan piyek-piyek premium—muda, agresif, dan memiliki prospek jangka panjang yang cerah.
PIYIK HANGING: Perkasa & Kakek Perkasa Menggebrak

Pada kelas Piyik Hanging, kompetisi berlangsung ketat dan penuh kejutan. Perkasa milik Shorea BF/Jogja keluar sebagai juara, unggul tipis dari Kakek Perkasa milik Wondo Arosa/Jakarta yang membayangi ketat di posisi kedua.
Suliwa dari Agil/Cirebon melengkapi tiga besar dengan performa matang yang konsisten sejak penggantangan awal.
Di posisi menengah, burung-burung seperti Badai Salju, Matahari, Shidoy, hingga Lufiera tampil garang dan memberikan warna persaingan sepanjang kelas berlangsung.
Kelas Hanging kali ini menjadi bukti bahwa generasi piyek 2025 memiliki kualitas suara yang semakin variatif—dengan durasi, volume, dan irama yang makin matang meski usia tergolong sangat muda.


KESIMPULAN: Generasi Baru Mulai Mengambil Panggung
Kejurnas Cup 2025 seri Bekasi memperlihatkan bahwa regenerasi perkutut nasional berjalan sangat baik. Banyak piyek muda tampil luar biasa, bahkan beberapa sudah menunjukkan karakter suara yang biasanya hanya muncul pada burung-burung dewasa.
Momentum ini memberi pesan kuat bahwa masa depan dunia perkutut Indonesia akan semakin kompetitif, dinamis, dan penuh talenta baru.
Sabtu ini bukan sekadar lomba, melainkan panggung bagi piyek-piyek masa depan yang siap mengukir sejarah.
PENUTUP MUSIM: KETIKA KEJURNAS MENJADI BABAK TERSULIT
Sebagai seri pamungkas yang sekaligus membawa nama besar Kejurnas LPI, event ini menjadi penutup yang penuh drama. Tidak sedikit peserta yang mengaku kecewa karena jagoan kualitas mereka tidak tampil maksimal. Namun sebagian lain menerima kenyataan bahwa inilah esensi lomba: yang bunyi paling mantap dan konsistenlah yang berhak menjadi juara, tidak peduli status atau rekam jejak sebelumnya.
Kejurnas 2025 membuktikan satu hal:
Tak ada hasil pasti dalam lomba perkutut—hari ini kualitas bisa kalah oleh gacor.
Event ditutup dengan penyerahan trofi kepada para juara masing-masing kelas. Liga 2025 resmi berakhir dengan penuh cerita unik, kejutan podium, dan antiklimaks yang menjadi warna tersendiri bagi para kung mania.

















Kalau bisa sekalian di kasih daftar kejuaraan sekalian pak bos
mkash sdh pak
Mantap ulasannya enak membacanya jempul maknanya
mkash bosk u