
Semarang – Gelaran bergengsi LADINIL “Tembalang Cup” yang berlangsung pada Sabtu, 24 Januari 2026, berjalan di bawah suasana penuh kewaspadaan. Meski matahari bersinar cerah di langit Semarang, para peserta harus menghadapi tantangan alam yang tidak terduga. Angin kencang berembus dengan kecepatan sekitar 5–10 km/jam, kondisi yang cukup menyulitkan burung perkutut untuk menampilkan performa terbaiknya.
Sesepuh perkutut, Mbah Supomo, memberikan catatan khusus terkait jalannya lomba. Ia menilai hanya burung dengan daya tahan dan mental kuat yang mampu bertahan dalam kondisi tersebut.
“Dalam kondisi angin seperti ini, hanya perkutut yang bandel dan memiliki mental baja yang mau berbunyi. Ini bukan sekadar soal keindahan suara, tetapi juga ketangguhan fisik dan mental di atas kerekan,” ujar Mbah Supomo saat memantau jalannya kompetisi.
Ketua Penyelenggara, Pak Yono, menyampaikan apresiasi atas antusiasme peserta yang tetap tinggi meski kondisi lapangan cukup menantang. Ia menilai semangat tersebut menjadi bukti kecintaan kung mania terhadap dunia perkutut.
Gelaran ini juga dihadiri tokoh-tokoh besar, termasuk peternak papan atas Atlas BF. Saat ini, Atlas BF tengah gencar mengembangkan trah Putra Kadur dan secara konsisten hadir di berbagai event perkutut, baik regional maupun nasional. Upaya ini dilakukan untuk menjaga eksistensi bendera Atlas di kalangan kung mania Nusantara.
Hasilnya terlihat di kelas Piyik Bebas, di mana Renegade (Juara V) dan Ekitike (Juara X) sukses menembus sepuluh besar dengan membawa Ring Atlas.

Kelas Piyek Bebas menjadi salah satu kelas paling menyita perhatian dalam gelaran LADINIL “Tembalang Cup” yang digelar di Tembalang, Semarang. Kelas ini dikenal menuntut kestabilan mental burung dalam posisi gantang tinggi, sehingga kesalahan kecil dapat berdampak langsung pada penilaian.
Sejak sesi awal, persaingan berlangsung ketat. Burung-burung peserta menampilkan kualitas suara yang beragam, mulai dari anggung panjang, irama cantik hingga kejernihan suara yang konsisten. Namun, tidak semua mampu menjaga performa hingga sesi akhir, terutama akibat pengaruh angin dan dinamika lingkungan lapangan.
Konsistensi Menjadi Kunci
Burung yang mampu tampil stabil sepanjang penilaian akhirnya mendominasi papan atas. Juri memfokuskan penilaian pada durasi anggung, ketepatan irama, serta ketenangan burung saat digantang tinggi, yang menjadi karakter utama saat tanding.
Beberapa peserta sempat unggul di sesi awal, tetapi mengalami penurunan performa di pertengahan lomba. Sebaliknya, burung dengan mental kuat dan pola kerja rapi justru mampu mencuri poin penting pada sesi-sesi penentuan.
burung Play Boy milik Teguh dari Mranggen tampil impresif dan sukses mengamankan Juara I. Konsistensi irama dan mental tarung yang kuat menjadi kunci kemenangan di kelas bergengsi ini. Posisi Juara II diraih oleh Red Bull milik Risky Wujaya dari Tembalang, disusul Ali Baba, juga milik Risky Wujaya, yang mengunci Juara III, menandai dominasi kuat dari satu pemilik di papan atas.
Sementara itu, Son Go Ku milik Mirza dari Tegal berhasil menempati Juara IV, dan Sakhyra kepunyaan H. Jajak dari Semarang melengkapi lima besar di Juara V. Tak kalah menarik, deretan burung seperti Kamand
Persaingan di kelas Hanging tidak hanya terjadi di posisi juara. Papan tengah hingga bawah menunjukkan selisih poin yang relatif tipis, menandakan kualitas peserta yang merata. Kondisi ini menjadi indikator positif bahwa regenerasi perkutut Hanging berkualitas di wilayah Jawa Tengah terus berjalan.

Di kelas Hanging, perkutut Purbaya milik Jhony Joyo asal Semarang dengan Ring Joyo BF berhasil mengamankan podium pertama. Posisi kedua diraih oleh Kameswara, milik H. Solikin dari Demak.
Pak Genk, selaku panitia seksi repot yang bertugas memastikan kelancaran teknis di lapangan, menegaskan bahwa faktor angin menjadi ujian utama bagi seluruh peserta.
“Angin hari ini menjadi penyaring alami. Semua burung yang masuk daftar juara adalah perkutut dengan mental benar-benar bandel. Tidak goyah meski diterpa angin kencang,” tegas Pak Genk.
Apresiasi untuk Penyelenggara
Gelaran LADINIL “Tembalang Cup” mendapat apresiasi luas dari para peserta berkat penyelenggaraan yang tertib, transparan, dan menjunjung tinggi sportivitas. Dukungan dari berbagai pihak, khususnya kung mania pengcam Tembalang, turut berperan besar dalam suksesnya perlombaan ini.
Dengan keberhasilan tersebut, Tembalang kembali menegaskan diri sebagai salah satu barometer lomba perkutut di Jawa Tengah. Para kung mania berharap ajang serupa terus berlanjut dan menjadi ruang lahirnya perkutut-perkutut berkualitas nasional di masa mendatang.










