Goldenvoicenews.com-Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Pengwil Jawa Tengah berlangsung dinamis dan penuh perdebatan. Agenda utama yang diharapkan mampu merampingkan jadwal Liga Jateng nyatanya belum sepenuhnya tercapai. Namun demikian, forum strategis ini justru mencatatkan keberhasilan lain yang tak kalah penting, yakni membuka peluang signifikan dalam penambahan kas organisasi.
Rakerwil dihadiri seluruh Pengda dan perwakilan Pengda se-Jawa Tengah. Jajaran Pengurus Pengwil turut hadir lengkap, dipimpin Ketua Pengwil H. Kemat beserta pengurus harian, pembina Pengwil, hingga mantan Ketua Pengwil, Budi SP Prokung. Kehadiran tokoh-tokoh tersebut menandakan pentingnya arah kebijakan yang akan diambil untuk keberlangsungan Liga Jateng ke depan.
Dari hasil rapat, diputuskan bahwa jumlah seri Liga Jateng tetap berada di kisaran 10 event yang tersebar di berbagai kota di Jawa Tengah. Angka ini masih jauh dari jumlah ideal yang sebelumnya diusulkan, yakni 5–6 seri. Keputusan ini tak lepas dari pertimbangan historis, mengingat pada gelaran Liga Jateng sebelumnya, di beberapa event jumlah peserta tidak mampu terisi penuh satu blok di tiap kelas, khususnya kelas dewasa.

Salah satu keputusan penting lainnya adalah dieliminasinya Liga Piyek dari kalender Konkrus Jateng 2026 mendatang. Forum menilai, tanpa disadari keberadaan dua liga tersebut justru “mengamputasi” jumlah peserta Liga Jateng Gayeng. Pasalnya, sekitar 50 persen burung dan peserta di kedua liga tersebut berasal dari basis penghobi yang sama. Sedangkat format kompetisinya juga berubah kelas dewasa yunior ditiadakan diganti dengan kelas piyek bebas, adapun tiga kelas lainya masih sama , dewasa, piyek yunior dan piyek hanging.
Sebagai solusi, Rakerwil menyepakati kebijakan baru dengan membebaskan daerah untuk membentuk liga wilayah atau ladini yang dapat digelar pada waktu bersamaan, dengan catatan jarak antarevent cukup berjauhan. Menurut Anang Teratai, kebijakan ini merupakan langkah sangat positif, terutama jika didukung dengan tiket lomba yang terjangkau.

“Liga daerah ini bagus sekali, asal tiketnya murah. Dengan begitu, waktu melatih jagoan bisa lebih intens, dan tiket murah akan mengurangi inflasi di kalangan penghobi,” ujarnya.
Anang Teratai juga memprediksi, dengan kondisi jadwal Liga Jateng yang masih tergolong “gemuk”, justru liga daerah berpotensi lebih sukses. Manfaatnya pun beragam, mulai dari pengkaderan juri-juri baru, hingga lahirnya penghobi-penghobi baru di daerah.
Kesuksesan terbesar Rakerwil ini adalah tercapainya kesepakatan pemberian sumbangan kas kepada Pengwil dari setiap Pengda penyelenggara ladini atau liga daerah. Jika kebijakan ini berjalan konsisten, kas Pengwil dipastikan akan meningkat signifikan. Dalam konteks ini, para penghobi atau kung mania layak memberikan apresiasi kepada Wahyu, juri asal Cilacap sekaligus pengurus Pengda, yang menjadi pengusul utama sumbangan kas di setiap gelaran lomba.
“Sudah kebayang berapa dana yang bisa terkumpul,” celetuk salah satu peserta rapat dengan nada optimistis.

Apa pun keputusan yang dihasilkan, Rakerwil ini diharapkan menjadi bahan literasi penting untuk masa mendatang. Sebab, tanpa kegagalan dan evaluasi, sebuah organisasi tak akan berkembang.
Sementara itu, terkait hadiah Liga Jateng Gayeng, hingga kini masih dalam tahap analisa. Termasuk hadiah penutup tahun 2026, apakah akan berupa uang pembinaan, emas, atau sepeda motor baru seperti tradisi sebelumnya. Seluruh proses tersebut saat ini masih berada di bawah kajian dan tanggung jawab Henry Atlas BF yang dipercaya sebagai penanggung jawab utama.







