Goldenvoicenews.com-Dalam jagat hobi burung perkutut tanah air, nama Mang Ableh bukan sekadar nama awak kandang atau perawat biasa. Pria asal Tasikmalaya ini adalah saksi hidup sekaligus aktor intelektual di balik moncernya burung-burung legendaris yang menghiasi podium tertinggi Liga Perkutut Indonesia (LPI).
Istilah “Mang Ableh identik dengan jawara nasional” bukanlah isapan jempol semata. Kehadirannya di pinggir lapangan atau di dalam farm besar sering kali menjadi jaminan kualitas mental dan performa burung perkutut kelas lomba.
Sang Maestro dari Tasikmalaya
Lahir dan besar di lingkungan agraris Tasikmalaya, Mang Ableh membawa filosofi ketelatenan khas masyarakat Sunda ke dalam kandang perkutut. Bagi para tokoh penghobi (kung mania) papan atas, Mang Ableh adalah sosok yang sangat disegani. Hampir seluruh tokoh perkutut di Indonesia mengenal wajah dan hasil polesannya.
Ia dikenal memiliki “insting tajam” dalam memahami karakter burung. Jika burung berada di tangannya, perubahan performa biasanya akan terlihat signifikan—mulai dari kestabilan bunyi hingga mentalitas saat berhadapan dengan lawan di gantangan.
Jejak Rekam: Menjaga Dinasti Juara
Dedikasi Mang Ableh terbentang melintasi beberapa dekade emas perkutut Indonesia. Ia adalah saksi sekaligus perawat utama dalam beberapa era besar:
Era WA/GM 54: Mang Ableh menjadi bagian penting dari kesuksesan burung-burung di masa ini, di mana persaingan sangat ketat dan standar suara burung mulai mengalami pergeseran ke arah kristal dan irama yang elegan.
Era Superman: Nama Mang Ableh semakin melambung saat mengawal Superman, salah satu perkutut fenomenal yang pernah ada. Ketelatenannya menjaga kondisi fisik dan psikis Superman membuatnya tetap stabil di jalur juara nasional hingga terjual 500juta.
Filosofi “Bujang Sudha” hingga Momong Cucu
Perjalanan hidup Mang Ableh di dunia perkutut bisa digambarkan dengan istilah “Bujang Sudha”. Ia memulai kariernya sejak masih muda belia, mendedikasikan seluruh hidupnya untuk merawat burung-burung milik orang lain dengan penuh loyalitas.
Waktu seolah berhenti di kandang perkutut baginya. Dari masa mudanya yang dihabiskan dengan membersihkan sangkar dan menjemur burung, hingga kini ia telah sampai pada fase “momong cucu”, kecintaannya pada perkutut tidak pernah luntur. Hebatnya, meski usia bertambah, kepekaan telinga dan tangannya dalam menyeting burung tetap dianggap sebagai yang terbaik di kelasnya.
Mengapa Tokoh Besar Percaya Mang Ableh?
Ada beberapa alasan mengapa para big boss perkutut selalu mengandalkan jasanya:
Kedisiplinan: Jadwal jemur, mandi, dan pemberian jamu dilakukan dengan ketepatan waktu yang luar biasa.
Ketenangan: Mang Ableh memiliki pembawaan yang tenang, yang secara tidak langsung menular pada karakter burung yang ia rawat.
Loyalitas Tinggi: Ia bukan sekadar pekerja, tapi penjaga amanah. Burung bernilai ratusan juta rupiah dirawatnya dengan rasa memiliki yang tinggi.
“Bagi Mang Ableh, perkutut bukan sekadar hobi atau pekerjaan. Ia adalah bagian dari helas napasnya. Jika burung juara, itu adalah bonus dari ketulusan merawat.” — Salah satu tokoh senior perkutut.
Sentuhan Midas: Dari Kandang Ternak hingga Nilai Ekonomi Tinggi
Kehebatan Mang Ableh tidak hanya berhenti di bangku juri atau pinggir lapangan lomba. Di balik layar, ia adalah sosok “arsitek” di dalam kandang ternak (breeding). Banyak farm besar yang mempercayakan pengelolaan indukan mereka sepenuhnya kepada Mang Ableh, dan hasilnya selalu luar biasa.
Di bawah penanganannya, sebuah farm tidak hanya mencetak burung bermental juara, tetapi juga membangun reputasi bisnis yang sangat prestisius. Berkat tangan dinginnya dalam menjodohkan indukan dan menjaga kualitas anakan, fenomena “inden” atau booking sebelum burung menetas menjadi pemandangan biasa.
Nilai Jual Fantastis: Bukan rahasia lagi di kalangan kung mania, anakan atau adik-adik dari jawara yang dirawat Mang Ableh sering kali langsung terjual di usia muda (piyik). Angka Rp30 juta ke atas menjadi standar harga bagi para kolektor yang ingin memiliki “darah juara” dari hasil polesan Mang Ableh.
Kepercayaan Kolektor: Para penghobi papan atas rela merogoh kocek dalam-dalam karena mereka percaya pada kualitas genetik yang terjaga. Jika Mang Ableh yang memegang kendali kandang, mereka yakin burung tersebut memiliki perawatan dasar dan nutrisi yang sempurna sejak dalam cangkang.
Magnet Ekonomi Farm: Kedatangan Mang Ableh di sebuah farm sering kali dianggap sebagai magnet keberuntungan. Farm yang tadinya biasa-biasa saja bisa berubah menjadi “pabrik jawara” yang nilai ekonominya melesat berkali-kali lipat berkat manajemen kandang yang ia terapkan.
“Banyak orang bisa merawat, tapi tidak semua orang punya ‘pulung’ (anugerah) untuk melahirkan trah nasional secara konsisten. Mang Ableh punya keduanya: keahlian teknis dan insting tajam.”
Dengan perpaduan prestasi di lapangan dan kesuksesan di kandang ternak, Mang Ableh telah membuktikan bahwa dedikasi seorang awak kandang adalah tulang punggung utama dari industri hobi perkutut tanah air.
Masa Keemasan di Shasha Bird Farm
Kiprah terbaru dan yang paling fenomenal adalah dedikasinya di Shasha Bird Farm. Di sinilah duet maut antara pemilik yang royal dan perawat yang loyal tercipta. Sang owner Shasha BF dikenal tidak segan merogoh kocek dalam-dalam untuk belanja indukan-indukan mewah kelas dunia, sementara Mang Ableh bertugas sebagai “arsitek” yang meramu genetik tersebut menjadi jawara.
Berkat tangan dingin keduanya Shasha BF melahirkan deretan burung kolosal yang menggetarkan arena nasional, di antaranya:
Long Kung Coy
Super Hero
Super Deal
Terminator
Sadis
Batman
Dan puncaknya, sang legenda hidup: SUPERMAN.
Keberhasilan ini membuat Shasha BF menjadi rujukan utama para kolektor. Nilai ekonomi yang tercipta sangat fantastis; anakan maupun adik-adik dari jawara tersebut kerap kali sudah ter-booking sejak masih piyik dengan nilai menembus Rp30- 60 jt juta ke atas.
Loyalitas di Tengah Godaan
Kehebatan Mang Ableh dalam mencetak burung berkelas nasional membuatnya menjadi incaran banyak pemilik farm besar lainnya. Kabar burung menyebutkan banyak tawaran menggiurkan yang datang agar ia bersedia pindah tugas. Namun, Mang Ableh tetap menunjukkan integritasnya.
Ia tetap loyal di Shasha BF. Baginya, kenyamanan bekerja dan dukungan penuh dari owner yang royal dalam investasi materi (indukan) adalah segalanya. Loyalitas ini pulalah yang membuat namanya semakin harum; ia bukan sekadar pekerja yang mencari gaji, melainkan seorang profesional yang menjaga amanah dan kualitas.
Kini, di usianya yang sudah memasuki masa “momong cucu”, Mang Ableh tetap aktif memantau perkembangan di kandang. Ia telah membuktikan bahwa profesi awak kandang, jika ditekuni dengan cinta dan kejujuran, bisa membawa seseorang ke puncak penghormatan tertinggi di mata komunitas. Selama suara kung masih menggema, nama Mang Ableh akan selalu diingat sebagai sang “Midas” yang mampu mengubah burung biasa menjadi emas di lapangan lomba.
Mang Ableh adalah potret nyata bahwa profesi perawat burung (awak kandang) adalah profesi yang mulia dan memerlukan keahlian khusus. Dari Tasikmalaya untuk Indonesia, ia telah mencatatkan namanya dengan tinta emas dalam sejarah perkutut nasional. Selama suara kung masih terdengar di atas tiang gantangan, nama Mang Ableh akan selalu diingat sebagai sang “tangan dingin” pencetak jawara.