

Goldenvoicenews.com – Nama Haji Malelang kembali menggema di jagat perkutut nasional. Kung mania asal Palu, Sulawesi Tengah, ini menunjukkan keseriusannya mengangkat pamor perkutut Sulawesi dengan cara yang tidak main-main: menggelontorkan dana ratusan juta rupiah demi satu ekor perkutut elite guna eksis dipanggung nasional.
Langkah berani itu ia wujudkan dengan memboyong perkutut fenomenal “Tiga Berlian”, burung yang selama ini dikenal sebagai ikon prestasi dan gengsi piyek yunior di kalangan kung mania Jawa. Nilai transaksinya pun mencengangkan. Bandrolnya setara satu unit mobil, menjadikan Tiga Berlian sebagai salah satu burung termahal yang pernah masuk ke Sulawesi.
Haji Malelang tidak sekadar membeli nama besar. Ia membeli kualitas, sejarah, dan legitimasi nasional. Tiga Berlian bukan burung sembarangan. Perkutut ini sudah menorehkan prestasi puncak, di antaranya Juara 1 Liga Perkutut Indonesia di kelasnya.
sepak terjang haji malelang yang juga memiliki ternakan mandala putra ini juga pernah menggondol Piala Mahkota Raja di ajang HB Cup, sebuah titel prestisius yang hanya mampu diraih burung dengan level absolut. Rekam jejak inilah yang membuat nama haji malelang disegani, dibicarakan, bahkan diburu oleh peternak, pedangan dan blantik papan atas di jawa.


Bagi Haji Malelang, langkah ini adalah strategi besar, bukan sekadar hobi mahal. Ia ingin mengubah peta kekuatan perkutut nasional, sekaligus menegaskan bahwa kung mania Sulawesi mampu berdiri sejajar dengan dominasi Jawa. Dengan menghadirkan burung berkelas nasional ke Palu, ia membuka mata publik bahwa Sulawesi bukan lagi penonton, melainkan siap menjadi pemain utama.
“Ini bukan soal mahal atau murah, tapi soal pembuktian,” menjadi pesan tak tertulis dari langkah Haji Malelang. Ia menantang stigma lama, mematahkan anggapan bahwa burung-burung hebat hanya lahir, berputar, dan juara di Jawa. Kini, Palu ikut masuk radar besar perkutut nasional.
Masuknya Tiga Berlian ke tangan Haji Malelang juga memberi efek domino. Gairah lomba di Palu dan Sulawesi mulai meningkat. Kepercayaan diri kung mania lokal ikut terangkat. Bahkan, sejumlah pemain Jawa mulai melirik Sulawesi sebagai medan kompetisi baru yang layak diperhitungkan.
Dengan langkah berani ini, Haji Malelang tidak hanya membeli seekor burung juara. Ia membeli martabat, kebanggaan, dan masa depan perkutut Sulawesi. Jika konsistensi ini terus terjaga, bukan tidak mungkin Palu akan segera melahirkan era baru kejayaan kung mania Indonesia dari timur.

