Terimakasih atas bantuan sharenya


Goldenvoicenews.com-Markas TS Bird Farm (BF) milik Iwan Jombang kembali menjadi magnet kung mania pada gelaran Latihan Dinilai (LADINIL) Perkutut “Gebyar Akhir Tahun”. Meski berstatus latihan, kemasan acara, kualitas peserta, serta ketatnya penilaian membuat atmosfer di lapangan terasa setara lomba resmi.

Sejak pagi hari, gantangan sudah dipenuhi burung-burung prospek dari berbagai daerah. Tidak hanya dari wilayah tapal kuda dan Jawa Timur, beberapa peserta luar pulau ikut meramaikan, menjadikan ladinil ini sebagai ajang uji mental burung dan strategi pemain menjelang pergantian musim lomba 2026.


Kondisi Lapangan & Jalannya Penilaian

Cuaca cerah berawan menjadi faktor pendukung utama. Angin relatif stabil, membuat karakter suara burung bisa keluar maksimal. Tim juri bekerja disiplin, fokus pada irama, durasi, jeda, serta stabilitas suara, tanpa kompromi terhadap burung yang mengalami drop performa.

Penilaian dilakukan ketat namun adil, sehingga hasil yang keluar benar-benar mencerminkan kualitas kerja burung di lapangan, bukan sekadar nama besar kandang atau ring.


Piyik Bebas: Raja Bako Tampil Paling Siap

Kelas Piyik Bebas menjadi sajian utama sekaligus paling menyedot perhatian. Raja Bako, burung milik Cokro Hindoyo dari Lombok NTB (ring HDL), tampil paling siap secara mental dan materi suara. Sejak awal sesi, Raja Bako langsung menunjukkan irama panjang, tembus, dan konsisten, nyaris tanpa kesalahan.

Raihan 53 gantangan menempatkan Raja Bako di posisi teratas dan membuatnya relatif aman dari kejaran rival. Kematangan karakter suara menjadi pembeda utama, terlebih saat burung lain mulai kehilangan tempo di pertengahan penilaian.

Di posisi berikutnya, Sinar Fajar milik Ha Toha (Krian) ring WDT tampil agresif dengan 87 gantangan. Meski jumlah gantangan lebih tinggi, stabilitas kerja belum mampu menandingi efektivitas Raja Bako.

Nama Derby King (Sony Hartanto/Surabaya – ring Jupiter) juga mencuri perhatian dengan 82 gantangan, menunjukkan progres positif dan layak menjadi amunisi serius ke depan. Sementara Tiga Intan (Grand Master) dan Dibuh (JBM) konsisten menjaga ritme, meski belum cukup untuk menembus dominasi papan atas.

Beberapa burung lain seperti Sensasi, Monster, Pecel Lele, dan Kopi Pahit menunjukkan potensi, namun masih terkendala konsistensi dan ketahanan mental di tekanan lapangan.


Piyik Hanging: Stabilitas Jadi Kunci

Beralih ke kelas Piyik Hanging, karakter permainan berubah. Di kelas ini, ketenangan dan presisi menjadi faktor utama, bukan sekadar frekuensi bunyi.

Himalaya milik Pak Lurah Jombang (ring Rafi) tampil paling stabil dan efisien. Dengan hanya 5 gantangan, Himalaya mampu mengunci posisi puncak berkat suara bersih, irama rapi, dan nyaris tanpa kesalahan teknis.

Tekanan ketat datang dari Sinar JM (Ha Toha/Krian – MST) yang agresif serta Langit Senja milik H. Nuryanto (Tulungagung) ring Fajar yang tampil berani dan penuh percaya diri. Tali Kutang (H. Abdullah M. Faisol/Malang) dan Avatar (Miranda/Sidoarjo) juga menunjukkan grafik performa menanjak.

Menariknya, selisih nilai antarburung di kelas ini sangat tipis. Beberapa peserta harus puas tertahan di papan tengah meski secara materi suara tidak kalah, namun kalah di aspek kestabilan.

LADINIL ini menjadi cermin kesiapan burung dan pemain. Banyak kandang memanfaatkan ajang ini untuk membaca progres ternak, menguji setelan, hingga melihat respons burung di bawah tekanan.

“Latihan tapi rasanya lomba besar. Dari sini kelihatan mana burung yang sudah siap tempur, mana yang masih perlu dimatangkan,” ungkap salah satu peserta asal Malang.

Kehadiran peserta dari Jombang, Malang, Surabaya, Krian, Mojokerto, Kediri, Tulungagung, hingga Lombok NTB semakin menegaskan bahwa TS BF Jombang kini menjadi salah satu barometer ladang uji kualitas perkutut di Jawa Timur.

Menutup tahun 2025, TS BF Jombang sukses menghadirkan ladinil berkualitas tinggi. Raja Bako di kelas Piyik Bebas dan Himalaya di kelas Piyik Hanging keluar sebagai ikon utama gelaran ini.

Jika konsistensi performa dapat dijaga, kedua burung tersebut diprediksi bakal menjadi kekuatan baru yang patut diperhitungkan di event resmi mendatang. Satu hal yang pasti, Gebyar Akhir Tahun ini bukan sekadar latihan—melainkan pemanasan serius menuju persaingan perkutut 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *