
Goldenvoicenews.com–Lapangan Kopi Luhur Cirebon yang selama ini dikenal angker bagi pendatang, Minggu (21/12/2025) justru menjadi panggung pembuktian bagi burung luar daerah. Adalah Road Tang, gacoan milik Mr. Akang Nusa (Bogor), yang sukses mencuri sorotan sekaligus “memukul mental” tuan rumah pada gelaran LPJB Awards 2025.
Datang tanpa banyak gembar-gembor, Road Tang tampil dingin sejak awal penilaian kelas Piyik Bebas. Irama kerja yang stabil, durasi suara panjang, serta kontrol emosi yang matang membuat burung ini konsisten mengunci poin demi poin. Saat gaco-gaco Cirebon dan sekitarnya mencoba bangkit, Road Tang justru semakin rapi, seolah menegaskan kelasnya sebagai burung siap pakai di level award.

Atmosfer lapangan yang dipenuhi pendukung tuan rumah tak mampu mengubah arah persaingan. Satu per satu nama lokal harus mengakui keunggulan Road Tang, yang akhirnya keluar sebagai juara pertama Piyik Bebas, meninggalkan Bulgaria, Sapujagat, termasuk sang juara umum klasement lpi 2025 Ruby star juga di. Sebuah kemenangan yang terasa telak, karena terjadi di kandang lawan.
Ketua Panitia H. Nono Ganesha tak menampik bahwa hasil ini menjadi bukti objektivitas penilaian. “Siapa pun yang terbaik, dialah yang menang. LPJJB Awards harus menjadi cermin kualitas, bukan soal asal daerah,” tegasnya. Di bawah kendali H. Nono Ganesha, lomba berjalan tertib, transparan, dan minim protes, meski tensi persaingan terbilang tinggi.
Tak hanya di Piyik Bebas, kelas Piyik Yunior dan Piyik Hanging juga menyuguhkan duel menarik. Namun tetap saja, kemenangan Road Tang menjadi cerita utama yang paling dibicarakan di sudut-sudut lapangan. Banyak pemain sepakat, satu burung ini sudah cukup untuk “menampar” dominasi tuan rumah yang selama ini begitu percaya diri tampil di Kopi Luhur.
LPJJB Awards 2025 pun menutup tahun dengan catatan penting: peta kekuatan perkutut Jawa Barat semakin merata. Kandang kuat tak lagi menjamin kemenangan mutlak. Dan di Cirebon hari itu, sejarah mencatat, cukup satu Road Tang, untuk mempermalukan tuan rumah.

PIYEK YUNIOR: DOMINASI BANDUNG, TEAM PALU GO NASIONAL.

Kelas Piyek Yunior menjadi ajang pembuktian kualitas pembinaan sejak usia dini. Sejak awal penilaian, tempo lomba langsung tinggi. Burung-burung tampil agresif, memaksa juri bekerja ekstra mencermati irama, volume, dan kestabilan kerja.
Puncaknya, Gembala milik Henry Manila (Bandung) tampil paling matang. Meski masih berstatus Jagoan gaek, namun gaco ini menunjukkan karakter suara bersih dengan durasi stabil dari awal hingga akhir. Konsistensi itulah yang mengantarkannya ke posisi puncak, mengungguli deretan pesaing berat.
Persaingan ketat datang dari tim UKI Team Palu – Sulteng yang menempatkan beberapa amunisinya di papan atas. Al-Hadid, Sultan Fatih, dan Seruni tampil berani dan penuh tekanan, membuktikan bahwa kualitas perkutut dari luar Jawa tak bisa lagi dipandang sebelah mata. Sementara Mustang milik Dede Prima Rasa (Bandung) dan Krakatau dari Malang ikut menjaga tensi lomba tetap panas.
Kelas ini menjadi sinyal kuat bahwa peta kekuatan yunior semakin merata. Tak ada dominasi tunggal, melainkan adu kualitas pembinaan, kesabaran, dan ketepatan setting.


PIYEK HANGING: DINGIN, KERAS, DAN TANPA KOMPROMI
Berbeda dengan kelas yunior, Piyek Hanging menyuguhkan atmosfer jauh lebih keras dan penuh tekanan. Di kelas inilah mental burung dan tangan dingin pemain diuji sesungguhnya.
Suliwa milik Agil Marsono (Cirebon) tampil dominan dan menjadi penentu ritme lomba. Dengan karakter kerja tenang namun mematikan, Suliwa sukses mengunci posisi puncak. Irama yang rapi dan durasi panjang membuat pesaing kesulitan mengejar, meski tampil di kandang sendiri tetap menuntut konsistensi ekstra.
Perlawanan datang dari Joko Tingkir besutan Nardi T.A.T (Ciamis) dan Srikandi milik R*Nadi Team (Bandung) yang sama-sama tampil stabil. Nama-nama lain seperti Badal Salju, Parikesit, hingga White Horse ikut memanaskan persaingan, menjadikan kelas hanging sebagai tontonan paling tegang di LPJJB Awards 2025.
Ketua Panitia H. Nono Ganesha menegaskan bahwa kelas hanging adalah etalase kualitas sesungguhnya. “Di kelas ini, tidak ada ruang kompromi. Yang siap mental dan kualitas, dialah yang bertahan,” ujarnya.


